JENUH DENGAN KEBOBROKAN HIDUP

Perjalanan hidup untuk mendapatkan sosok yang sempurna memang diakuinya sulit. Beberapa rintangan yang menghadang, menuai permasalahan tersendiri. Meski keinginannya untuk kembali ke jalan yang benar sempat terbesit, namun sebagai anak muda dengan darah membara sulit untuk diajak kompromi.

Beberapa sekolah yang telah dirasakannya sebagai batu sandaran dalam mengenyam pendidikan formal ataupun agama, tak mampu membendung kebengalannya. Hasilnya nihil. Sosok nakal Liong Bie kembali merongrong jiwanya yang masih labil. Pendidikan agama yang dilaluinya, terhempas begitu saja dan berganti dengan jalan kemaksiatan.

Sekolah SMA di Bali memang menjadi suatu perjalanan yang tak bisa dilupakan olehnya. Segala tindakan yang tak patut dikerjakan anak seusianya, malah ia lakukan di Pulau Dewata itu.

Perjalanan hidup untuk mendapatkan sosok yang sempurna memang diakuinya sulit. Beberapa rintangan yang menghadang, menuai permasalahan tersendiri. Meski keinginannya untuk kembali ke jalan yang benar sempat terbesit, namun sebagai anak muda dengan darah membara sulit untuk diajak kompromi.

Beberapa sekolah yang telah dirasakannya sebagai batu sandaran dalam mengenyam pendidikan formal ataupun agama, tak mampu membendung kebengalannya. Hasilnya nihil. Sosok nakal Liong Bie kembali merongrong jiwanya yang masih labil. Pendidikan agama yang dilaluinya, terhempas begitu saja dan berganti dengan jalan kemaksiatan.

Sekolah SMA di Bali memang menjadi suatu perjalanan yang tak bisa dilupakan olehnya. Segala tindakan yang tak patut dikerjakan anak seusianya, malah ia lakukan di Pulau Dewata itu.

Saat itu Liong Bie benar-benar lupa siapa dirinya. Lupa akan anugrah dan kelebihan yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. Saat itu hanya satu yang muncul di benaknya, kesenangan, kesenangan dan kesenangan.

Di antara kehidupan yanga serba gemerlap, Liong Bie pernah merasakan kesepian. Namun ia tak tahu pada siapa harus mengadu. Kedua orang tuanya berada jauh di tanah Jawa.

Ketika hari berganti hari dan bulan pun menjemput, lambat laun Liong Bie mulai jenuh. Tahun 1994 Liong Bie bertekat melanjutkan studinya yang sempat terbengkalai. Kali ini pilihannya adalah daerah Purwakarta. Ia punya keyakinan untuk mengawali kehidupan dan berusaha kembali untuk menjadi yang lebih baik.

Namun tampaknya tak mudah untuk mengawali hal tersebut. walau telah beberapa kali mencoba dan terus mencoba namun masih ada godaan yang siap menghadangnya. Dalam situasi labil inilah Liong Bie muda kembali melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Belum genap setahun di Purwakarta, ia harus angkat koper dan balik kembali ke Indramayu.

Liong Bie sepertinya tak pernah kapok. Di sekolah barunya ini, prilaku yang merugikanpun kerap ia lakukan. Hingga akhirnya beberapa guru serta pendidik yang ada, sempat di buatnya gerah. Dengan alasan inilah, lagi-lagi Liong Bie harus rela diberhentikan dari tempatnya belajar.

Persinggahan terakhir dalam menempuh pendidikan dilakukan di Jati Asih, Bekasi. Walau dengan susah payah bangkit, akhirnya Liong Bie dapat lulus pada tahun 1996. Meski begitu perjalanannya untuk melakukan pembuktian diripun masih belum ia dapatkan.

Oleh : M Syahnoer

Tulisan Pernah Dimuat Di Harian POSMETRO JAKARTA

DINDING PESANTREN TAK MEMBUAT JERA

Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang bisa menerka. Dan siapa sangka kalau sosok Mas Liong Bie memiliki beragam cerita yang akhirnya dapat membentuknya menjadi sosok yang mau membantu sesama yang membutuhkan.

Ditilik dari keturunan, darah kedua orang tuanya pula yang mempengaruhi kejiwaan pria kelahiran Bogor yang bernama asli Febri Amulia Wahab ini. Meski berasal dari keluarga sederhana, ayahnya yang berasal dari Banten dan ibunya dari kasepuhan Cirebon mempunya sifat sosial yang tinggi. Dan karena dilahirkan dalam keluarga ‘orang pintar’ inilah, sejak kecil Liong Bie sudah terbiasa mengobati penyakit.

Kelebihan yang dimilikinya memang jarang dimiliki oleh anak seusianya. Meski begitu, seorang bocah tetaplah bocah yang masih haus akan dunianya. Dimana dunia seorang bocah yang penat akan keseriusan serta kerja keras yang memang menjadi milik dunia para orang dewasa. Dari sinilah lubuk hati Liong Bie kecil lebih menerima sebagai orang yang bebas serta apa adanya.

Menginjak remaja, barusah tumbuh sifatnya sebagai sosok pembrontak yang tak jarang membuat kedua orang tua kewalahan untuk mengasuhnya.

Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang bisa menerka. Dan siapa sangka kalau sosok Mas Liong Bie memiliki beragam cerita yang akhirnya dapat membentuknya menjadi sosok yang mau membantu sesama yang membutuhkan.

Ditilik dari keturunan, darah kedua orang tuanya pula yang mempengaruhi kejiwaan pria kelahiran Bogor yang bernama asli Febri Amulia Wahab ini. Meski berasal dari keluarga sederhana, ayahnya yang berasal dari Banten dan ibunya dari kasepuhan Cirebon mempunya sifat sosial yang tinggi. Dan karena dilahirkan dalam keluarga ‘orang pintar’ inilah, sejak kecil Liong Bie sudah terbiasa mengobati penyakit.

Kelebihan yang dimilikinya memang jarang dimiliki oleh anak seusianya. Meski begitu, seorang bocah tetaplah bocah yang masih haus akan dunianya. Dimana dunia seorang bocah yang penat akan keseriusan serta kerja keras yang memang menjadi milik dunia para orang dewasa. Dari sinilah lubuk hati Liong Bie kecil lebih menerima sebagai orang yang bebas serta apa adanya.

Menginjak remaja, barusah tumbuh sifatnya sebagai sosok pembrontak yang tak jarang membuat kedua orang tua kewalahan untuk mengasuhnya.

Tercatat, karena kenakalan inilah Liong Bie muda sampai menjalani studinya dengan berpindah-pindah, dari satu sekolah ke sokalah lain. Sekolah Dasarnya ditamatkan di Indramayu. Ketika menginjakkan bangku SMP di Indramayu, ia berbuat ulah hingga akhirnya dipindahkan ke Bekasi.

Kepindahannya tak membuatnya mejadi baik. Liong Bie justru makin nakal. Ya kenakalan anak remaja seusianya. Tahun 1993 kedua orang tuanya akhirnya sepakat untuk memindahkan Liong Bie ke pesantren.

Di pesantren tersebut meski hari-harinya dihabiskan untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, namun Liong Bie tidak langsung berubah. Ia sempat merenungi nasibnya. Daya pikirnya menerawang jauh, kembali pada keadaan yang sempat membuatnya jauh turun kebawah. Rasa sesal sempat hinggap dalam raganya, namun hal itu hanya sesaat. Darah mudanya kembali mendidih, lantaran masih ingin mengenyam kenikmatan duniawi. Liong Bie kembali berontak.

Belum genap setengah tahun mengenyam pendidikan agama di pesantren tersebut, ia kembali bikin ulah. Kini guru pesantren yang menjadi sasaran kekesalannya. Beberapa kali bogem mentah Liong Bie bersarang ke muka gurunya. Merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya, Liong Bie memilih hengkang ke Bali.Dalam pencarian jati diri inilah perjalanan hidup seorang Liong Bie makin berliku.

Oleh : M Syahnoer

Tulisan Pernah Dimuat Di Harian POSMETRO JAKARTA

Scroll Up